Pendidikan merupakan ruang dinamis yang selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut terjadi di berbagai faktor penunjang pendidikan, baik dari segi kebijakan, kurikulum, paradigma, dan tuntutan zaman.
Pendidikan bagi generasi sekarang bukan hanya sebagai proses transfer knowledge dari guru ke murid, namun lebih dari itu, pendidikan adalah proses penanaman nilai moral, pembentukan sikap, dan melatih keterampilan, karena tujuan utama dari pendidikan itu sendiri adalah untuk mengantarkan murid menjadi manusia yang selamat dan bahagia.
Salah satu cara untuk mengantarkan murid menjadi manusia yang selamat dan bahagia adalah dengan melatih kepekaan murid terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat serta melatih keterampilan mereka dalam melakukan problem solving terhadap isu-isu tersebut.
Murid yang kita didik sekarang adalah agen-agen perubahan yang akan memegang tonggak-tonggak penting dan strategis di masa yang akan datang. Oleh karenanya bagaimana pola pendidikan kita sekarang akan sangat berdampak terhadap aksi-aksi nyata yang akan mereka ambil nantinya. Dengan kata lain akan menentukan bagaimana komunitas, lingkungan, atau bahkan dalam skala yang lebih besar bagaimana dunia ini akan berlangsung nantinya.
Baru-baru ini, saya mendengarkan sebuah podcast dari Pak Gita Wirjawan dengan narasumber seorang anak muda yang luar biasa, Amadeus Driando. Seorang food scientist yang tertarik mengembangkan tempe, melakukan penelitian mengenai tempe, menggagas Tempe Movement, dan mendirikan perusahaan yang menunjang keberlangsungan tempe. Hal itu semua bemula dari ketertarikannya terhadap tempe, bagaimana tempe merupakan warisan kekayaan leluhur yang ada di sekitar kita yang sangat berpotensi, murah, dan bergizi. Sehingga tempe bisa dijadikan sebagai alternatif protein yang sangat ramah lingkungan. Sembilan puluh menit podcast ini berlalu tanpa terasa karena penyampaian narasumber yang sangat passionate di bidangnya dan kemampuan strory telling-nya yang mengagumkan. Sangat menarik mendengarkan bagaimana ide luar biasa itu bisa hadir dari seorang anak muda. Tidak semua orang menyadari potensi tempe tersebut, semua itu lahir akibat dari kepekaan seorang Amadeus Driando terhadap kondisi dan potensi lingkungannya, serta dengan kemampuan berpikir kritis dan kreatifnya menggagas perubahan-perubahan dan aksi-aksi nyata.
Munculnya anak muda seperti Driando ini salah satunya adalah buah dari pendidikan yang merangsang pola pikir kritis dan kreatif pada murid, pembelajaran yang berdifat kontekstual, dan mengajak murid untuk peka terhadap lingkungan. Sehingga pada akhirnya bisa mengantarkan murid menjadi agen perubahan di masa yang akan datang.
Tentu banyak faktor yang bisa menunjang terbentuknya hal ini, namun kita sebagai pendidik memegang salah satu peranan penting yang bisa berkontribusi langsung dalam hal ini.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai pendidik?
- Selalu kaitkan materi pembelajaran dengan isu-isu kontekstual dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga proses pembelajaran bukan hanya sebatas proses transfer knowledge saja, tapi menjadi pemahaman yang bermakna bagi murid.
- Merancang pembelajaran dengan model pembelajaran yang berpusat kepada murid. Sehingga murid mendapatkan pengalaman belajarnya, bukan hanya pemahaman materi saja. Model pembelajaran discovery learning, Problem Based Learning (PBL), dan Project Based Learning (PjBL) bisa menjadi alternatif yang sesuai.
- Hargai setiap ide dan kreatifitas murid. Hal ini sangat penting untuk membentuk pribadi murid yang percaya diri, sehingga terbiasa melahirkan ide-ide tanpa khawatir akan dihakimi atau direndahkan.
Selamat berkarya Ibu dan Bapak guru hebat. Tetap semangat. Mulailah dari langkah kecil, mulai dari lingkungan terdekat kita, dan mulai saat ini juga. 😊
Tidak ada komentar:
Posting Komentar