Rabu, 08 Juli 2020

Bercerita dan Belajar

Di suatu Senin sore sepulang sekolah emak punya tugas ekstra, beresin sayur-sayur belanjaan si Bapak tadi. Iya, yang belanja papanya anak-anak, sebelum ngebully emak sebagai istri yang tegaan ini adalah bentuk kerjasama kami di rumah ya. Lain kali coba kita bahas. Gak sekarang. Itupun kalau ingat. Dan sempat. 😁
Lagi asik bercengkrama dengan sayur-sayuran dan koleganya, si sulung ikutan nimbrung. Bukan mau bantuin, tapi mau ngotak-ngatik alat-alat di kotak perbengkelan papanya yang kebetulan berada di salah satu sudut dapur. Uniknya punya tinggal (yang punya ya yang punya perusahaan 😄) di rumah yang minimalis gini ya itu, setiap space di rumah bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, walaupun gak ada hubungannya, seperti obeng-obeng dan tang yang ada di kotak peralatan papanya ini, sama sekali gak ada urusannya ama dapur tapi disinilah mereka berada 😅

Seperti biasa, waktu bersama gini dimanfaatkan untuk sekedar bercerita tentang berbagai hal. Emak nanya-nanya gimana tadi di daycare? Main apa aja? Seneng gak? Teman-teman gimana? Dll.

Dan mengalirlah dia, si sulung yang kalo di luaran sana sangat pendiam dan slow to warm kalo jumpa orang baru ini akan sangat lancar jika bercerita di rumah.

Semuanya diceritakan, mulai dari makan ama siapa, tadi main petak umpet sama teman-teman, gurunya siapa aja, dll.

Ketika lagi enaknya ngobrol, emak teringat dengan hasil tes psikologi si sulung yang beberapa hari lalu diterima. Di sana disebutkan kalo gaya belajar yang cocok untuk si abang adalah verbal, emak mo coba buktikan ni. Apa bener dan efektif?

Sewaktu si abang berusia 4 tahun, emak pernah ikutkan juga untuk tes MIR (Multiple Intelligences Research). Multiple Intelligences Research adalah sebuah riset untuk memahami kecendrungan kecerdasan seorang anak yang dikembangkan oleh Pak Munif Chatib. MIR ini sendiri adalah pengembangan dari teori Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh Howard Gardner. Waktu itu didapatkan hasilnya kalo kecerdasan yang dominan si abang adalah logical-mathematical dan visual.
Hal ini emang udah terbukti. Si abang akan sangat enjoy kalo ngomongin soal angka-angka, pola bilangan, dan sangat cepat mengingat bentuk, pola, dan warna.

Kalo gaya belajar verbal emak baru tau niy, boleh dibuktikan dulu.
Maka selagi asik bercerita, emak coba masuk deh, nanya-nyanya si abang.
"Tadi di daycare gurunya siapa aja?" Emak mulai bertanya.
Si abang menjawab, "Ada Bu Ririt, Bu Anggi, Bu Rama, sama Bu Ros."
"Jadi berapa orang guru abang?"
Dia mulai ngitung, "Empat orang."
"Oke. Kalo Bu Anggi ama Bu Ririt aja itu berapa orang?"
"Ya, dua orang."
"Trus kalo Bu Ririt sama Bu Anggi pulang duluan, tinggal berapa orang guru abang?"
"Ya tinggal dua orang."
"Nah, klo gitu 4 dikurangi 2 hasilnya berapa?"
"Duaa...  Yeee..." Dia senang karena menjawab dengan benar.

Melihat adanya angin baik, emak lanjut lagi.
"Tadi main petak umpet sama siapa aja?"
"Sama Inara, Dedev, dan Abid"
"Jadi berapa orang temen abang yang main?"
"Tiga orang lah, Ma." Mungkin dia ngerasa koq itu aja nanya. 😅
"Nah, klo dua orang temen abang yang lain ikutan main juga, jadi berapa orang temen abang yang main petak umpet?"
Matanya mulai melirik-lirik, lihat-lihat ke plafon, kayaknya lagi mikir.
Kemudian menjawab,"Jadi lima orang."
"Wah, hebat. Jadi 3 ditambah 2 hasilnya berapa?"
"Lima, Ma."
"Kereen."

Lanjut dengan beberapa soal lagi, dengan menggunakan nama temen-temennya, guru-gurunya, atau mainannya. Soalnya seputaran penjumlahan sama pengurangan aja. Angkanya juga yang sederhana aja, yang penting si abang ngerti konsep penjumlahan dan pengurangan itu apa.
Karena mungkin lagi enjoy, sambil bercerita, dibarengi dengan bermain bengkel-bengekelan lewat juga beberapa soal sampai si abang akhirnya nyadar.

"Loh koq kita jadi belajar? Belajar kan bukan sekarang. Nanti jam 8."

Di rumah kita memang punya jadwal kalo belajar itu biasanya setelah sholat isya dan ngaji, jadi sekitar jam 8.
Jadi ketahuan deh. Hehe.. Emak jadinya cuma cengengesan aja.

"Iya ya, jadi belajar. Tapi gak pa2 deh, satu lagi ya."
"Gak mau. Nanti aja belajarnya jam 8." Katanya sambil lanjut main bengkel-bengkelan.

Oke deh. Cukup dulu untuk sekarang. Yang penting emak udah punya catatan tambahan, tentang gaya belajar si abang.

Beberapa tips jika ingin bermain atau belajar sama anak :
1. Perhatikan mood anak. Pastikan anak dalam mood yang bagus untuk melakukan kegiatan
2. Peka dengan limit anak. Jangan paksakan untuk melanjutkan kegiatan jika anak udah mulai jenuh. Kasih jeda atau ganti dengan bentuk kegiatan lain
3. Last but not least, pastikan emak lagi dalam keadaan waras paripurna 😄
Mo bikin apapun gak akan berhasil kalo emak lagi gak mood apalagi gak waras. Yang ada malah nanti berujung perang dunia. Anak salah dikit aja bisa bikin suntiang etek naiak 😂
Happy Mom, happy kids. Bukan sebaliknya ya. Buktikan aja. Ah, jadi pengen nulis tentang ini juga. Emak udah mulai banyak maunya niy. Macam rajin aja nulisnya. Munculnya tulisan ini aja sama halnya dengan waktu yang dibutuhkan cahaya untuk merambat sejauh 94.608 x 1011 
meter.
Ini maksudnya berapa lama, cari sendiri ya... 😂